Jumat, 13 Desember 2013

Masalah Pokok Umat Islam


  Masalah Pokok yang Dihadapi dalam Berdakwah
 Kesatuan
Topic tentang kesatuan ini masih menjadi isu hangat di kalangan Ummat islam sampai hari ini.[2] Akan tetapi apa kita akan bersatu hanya kerena kita memberitahu mereka untuk bersatu??. Kita boleh memberikan ceramah panjang tentang persatuan kesatuan, tetapi persatuan dan kesatuan itu tidak akan datang begitu saja kepada kepada kaum muslim. Pada dasarnya Kaum Muslim akan memiliki kesatuan hanya ketika mereka taat kepada Allah dalam hati mereka dan amalan mereka. Seperti apa yang telah dicontohkan Rosulullah SAW, beliau berdakwah dengan cara sedikit berbicara dan banyak bekerja. Mungki pada saat ini pendakwah lebih banyak bicara tentang kesatuan secara kontekstual akan tetapi tidak banyak bicara tentang action ya.
Oleh karena itu, sebagai calon pendakwah akan lebih baik ketika berdakwah tentang kesatuan ummat Islam disertai dengan tindakan yang memperbaharui cinta kita kepada allah dan mengurangi cinta kita terhadap selain Allah.
 keikhlasan
Masalah pokok ummat islam lainnya yang perlu disorot oleh penda’I ilah masalah keikhlasan. Keikhlasan seperti apa? Sebagaimana [3]kutipan bapak Mario teguh  keikhlasan itu menerima Tuhan dengan segala kebenarannya. Ikhlas itu tidak menerima segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan sebagai kebenaran sebagai pedoman hidup menjadikan ia ‘up’ tertuntun dalam ‘logika iman’. Dan ikhlas itu adalah Segala sesuatu yang disampaikan sebagai kebenaran oleh tuhan yang harus diterima.
Lalu apa yang memjadi pokok masalah tentang keikhlasan itu? Yang menjadi pokok permasalahan ummat islam dalam konteks keikhlasan ialah ketika ketika sseeorang menghadapi suatu persoalan ia seakan akan masalahnya lah yang paling berat di dunia ini. Padahal pada kenyataannya tiada kehidupan yang mudah.
Ikhlas dalam konteks ini bisa berorientasi pada ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam beribadah kepada allah. Jika ummat manusia telah mampu menjalankan konsep ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam beribadah tentunya angka stress dan bunuh diri dikalangan ummat islam akan menipis dan mungkin akan lenyap.
Jadi pada dasarnya, ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam beribadah artinya bersyukur dan selalu bekerja untuk memampukan diri agar hatinya tidak gelisah oleh masalah masalah yang lebih kecil dari dirinya. Sebagaiman firman Allah : Katakanlah ( Muhammad ), “ sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya,dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri ( muslim)”
 Ruh
[4]Ruh merupakan pembatas dari pada AL HAQQ, seperti halnya jasmani yang merupakan pembatas dari pada ruh.  Pada kenyataannya seluruh dunia ini adalah pakaian dari pada ruh yang tidak diragukan lagi adalah satu ( Ruh Idhofi, Nur Muhammad ).  Seperti halnya cahaya matahari, mataharinya tetap satu, akan tetapi cahayanya memasuki setiap jendela serta menerangi setiap rumah. Ruh tidak masuk ke dalam jasmani, akan tetapi seperti penunggang dan tubuh adalah seperti kuda.  Gerakan Ruh dan Jasmani adalah seperti gerakan dari tangan dan anak kunci, terjadi serempak.  Di dalam sir ada Aku… berarti Aku (Nur-Energi) menggerakkan Sir, kemudian Sir menggerakkan Ruh dan Ruh menggerakkan Qolbu, Qolbu menggerakkan budi, budi menggerakkan akal dan akal menggerakan tubuh.
Jihad
Dan tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.’ (S.29 Al-Ankabut:69)
[5]Kata bahasa Arab yaitu Jihad yang dikemukakan dalam ayat Al-Quran ini diterjemahkan sebagai ‘berjuang.’ Kata Jihad itu memang secara relatif pendek sekali tetapi implikasinya luar biasa dalam masyarakat Islam secara keseluruhan dan dalam kehidupan pribadi seorang Muslim. Jihad sebagaimana diperintahkan dalam Islam bukanlah tentang membunuh atau dibunuh tetapi tentang bagaimana berjuang keras memperoleh keridhaan Ilahi. Baik individual mau pun secara kolektif, Jihad merupakan suatu hal yang esensial bagi kemajuan ruhani.
Kata Jihad itu sama sekali tidak mengandung arti bahwa kita selalu dalam keadaan siap untuk berkelahi atau melakukan perang. Hal itu sama sekali jauh dari kebenaran dan realitas. Arti kata Islam sendiri berarti kedamaian dan semua usaha dan upaya kita sewajarnya diarahkan kepada penciptaan kedamaian serta harmoni di antara sesama kita, dalam komunitas dan dalam masyarakat secara keseluruhan.
Pada dasarnya Kata Jihad itu mencakup keseluruhan aktivitas positif yang harus dilakukan seorang Muslim dan kita semua harus berlaku sebagai Mujahid yang secara istiqomah memperbaiki diri. Berjuang demi Allah membutuhkan tekad bulat dan keteguhan hati, dimana hal ini tidak mungkin bisa dicapai tanpa keimanan, pemahaman dan keyakinan yang hakiki kepada Wujud Maha Agung yang Maha Kuasa serta kepastian adanya kehidupan setelah kematian. Jika seorang Muslim meyakini bahwa keimanannya itu benar adanya, agama yang dianutnya itu juga benar maka ia tidak perlu takut kepada orang-orang yang berusaha menariknya keluar dari keimanan demikian. Sebaliknya, ia harus menerima mereka di rumahnya dengan senang hati dan melalui amal dan kata yang saleh, insya Allah, bisa menarik mereka ke dalam agamanya.
Kebodohan
[6]Kebodohan bukan sifat yang selalu melekat pada manusia dalam setiap kondisinya. Tetapi, ada bentuk kebodohan yang melekat pada manusia sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, yaitu kelalaiannya dalam upaya menghilangkan kebodohan tersebut dengan cara belajar. Oleh karena itu, hukum kebodohan dalam masalah agama berubah sesuai dengan perubahan hukum kebodohan yang dapat dimaafkan karena sebab-sebab syariat: pertama, adalah karena sebab kesulitan untuk melepaskan diri dari kebodohan tersebut. Kedua, adalah tidak adanya kelalaian mukallaf dalam tindakannya yang muncul dari kebodohan yang dimaafkan tersebut. Jadi, kebodohan tidak dapat dijadikan alasan, kecuali jika ada kesulitan dan kendala untuk menghindarinya, jika kesulitan dan kendala itu hilang, dan ia dapat mengetahui hukum agama tetapi ia lali, maka kebodohannya tidak dapat dimaafkan.
Realita yang terjadi, masyarakat tidak kunjung baik dari segi moral maupun kwalitas keilmuaannya. Bahkan dalam satu hadits dari Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa di akhir zaman nanti, manusia akan menjadi bodoh dan kebodohan tersebut akan merajalela baik menimpa pada masyarakat awam maupun para penguasa.Hadits tersebut berbunyi, “Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra. berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya, Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari para hamba, tetapi Allah mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, ketika tidak ada lagi ulama, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka pun ditanya, lantas berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bencana dan fitnah terbesar bagi umat ini adalah kebodohan. Sedang nikmat terbesar adalah ilmu akan al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai pemahaman salaful ummah (pendahulu ummat). Kebodohan akan ilmu syariat menyebabkan fitnah dan perpecahan umat. Selain itu, kebodohan merupakan sumber bencana munculnya ajaran sesat.
 Kemiskinan
[7]Kemiskinan masih menjadi persoalan utama umat Islam. Tak hanya di Tanah Air, masalah serupa juga dihadapi umat Islam di seluruh dunia. Penyebab utama kemiskinan di kalangan umat Islam adalah rendahnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang menekankan kerja keras dan semangat perubahan.”Islam baru dipahami sebatas ritual, tapi perbaikan kualitas, keadilan, dan profesionalisme belum disentuh.”Karena itu, diperlukan upaya reformulasi pemahaman umat terhadap ajaran dan nilai luhur Islam secara utuh, terutama melalui jalur pendidikan keagamaan. Lembaga pendidikan Islam perlu mengembangkan keilmuan secara menyeluruh, tidak hanya mencakup agama, tetapi juga penguatan sains, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks ini, menurut Imam, pemerintah dan ormas Islam dituntut berani membuka diri untuk perubahan agar upaya pengentasan kemiskinan bisa diselesaikan secara kolektif.




[1]
[2]Kutipan  Dr.Nasoha Saabin Kuala Lumpur, Malaysia

[3] Kutipan bapak Mario Teguh dalam acara  Golden Ways episode ‘jiwa yang tenang’
[5] Kutipan Bilal Atkinson adalah seorang Inggris pensiunan polisi dan sekarang menjadi Amir Muballigh Wilayah Ahmadiyah dari bagian Timur Laut Inggris.di terjemahkan oleh A.Q khalid
[6]  Majmu al-Fatawa, juz 2, hal. 281
[7] Kutipan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Imam Suprayogo, kepada Republika, Selasa (11/1).