Masalah
Pokok yang Dihadapi dalam Berdakwah
Kesatuan
Topic
tentang kesatuan ini masih menjadi isu hangat di kalangan Ummat islam sampai
hari ini.[2] Akan
tetapi apa kita akan
bersatu hanya kerena kita memberitahu mereka untuk bersatu??. Kita boleh
memberikan ceramah panjang tentang persatuan kesatuan, tetapi persatuan dan
kesatuan itu tidak akan datang begitu saja kepada kepada kaum muslim. Pada
dasarnya Kaum Muslim akan memiliki kesatuan hanya ketika mereka taat kepada
Allah dalam hati mereka dan amalan mereka. Seperti apa yang telah dicontohkan
Rosulullah SAW, beliau berdakwah dengan cara sedikit berbicara dan banyak
bekerja. Mungki pada saat ini pendakwah lebih banyak bicara tentang kesatuan
secara kontekstual akan tetapi tidak banyak bicara tentang action ya.
Oleh karena itu, sebagai calon pendakwah akan lebih baik ketika berdakwah tentang kesatuan ummat Islam disertai dengan tindakan yang memperbaharui cinta kita kepada allah dan mengurangi cinta kita terhadap selain Allah.
Oleh karena itu, sebagai calon pendakwah akan lebih baik ketika berdakwah tentang kesatuan ummat Islam disertai dengan tindakan yang memperbaharui cinta kita kepada allah dan mengurangi cinta kita terhadap selain Allah.
keikhlasan
Masalah pokok ummat islam lainnya yang perlu disorot oleh
penda’I ilah masalah keikhlasan. Keikhlasan seperti apa? Sebagaimana [3]kutipan
bapak Mario teguh keikhlasan itu
menerima Tuhan dengan segala kebenarannya. Ikhlas itu tidak menerima segala
sesuatu yang diberikan oleh Tuhan sebagai kebenaran sebagai pedoman hidup
menjadikan ia ‘up’ tertuntun dalam ‘logika iman’. Dan ikhlas itu adalah Segala
sesuatu yang disampaikan sebagai kebenaran oleh tuhan yang harus diterima.
Lalu apa yang memjadi pokok masalah tentang keikhlasan itu?
Yang menjadi pokok permasalahan ummat islam dalam konteks keikhlasan ialah
ketika ketika sseeorang menghadapi suatu persoalan ia seakan akan masalahnya
lah yang paling berat di dunia ini. Padahal pada kenyataannya tiada kehidupan
yang mudah.
Ikhlas dalam konteks ini bisa berorientasi pada ikhlas dalam
menghadapi masalah dan ikhlas dalam beribadah kepada allah. Jika ummat manusia
telah mampu menjalankan konsep ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam
beribadah tentunya angka stress dan bunuh diri dikalangan ummat islam akan
menipis dan mungkin akan lenyap.
Jadi pada dasarnya, ikhlas dalam menghadapi masalah dan
ikhlas dalam menghadapi masalah dan ikhlas dalam beribadah artinya bersyukur
dan selalu bekerja untuk memampukan diri agar hatinya tidak gelisah oleh
masalah masalah yang lebih kecil dari dirinya. Sebagaiman firman Allah : “Katakanlah ( Muhammad ), “ sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan
matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya,dan aku adalah orang yang pertama-tama
berserah diri ( muslim)”
Ruh
[4]Ruh merupakan pembatas dari pada AL
HAQQ, seperti halnya jasmani yang merupakan pembatas dari pada ruh. Pada
kenyataannya seluruh dunia ini adalah pakaian dari pada ruh yang tidak
diragukan lagi adalah satu ( Ruh Idhofi, Nur Muhammad ). Seperti halnya
cahaya matahari, mataharinya tetap satu, akan tetapi cahayanya memasuki setiap
jendela serta menerangi setiap rumah. Ruh tidak masuk ke dalam jasmani, akan
tetapi seperti penunggang dan tubuh adalah seperti kuda. Gerakan Ruh dan
Jasmani adalah seperti gerakan dari tangan dan anak kunci, terjadi
serempak. Di dalam sir ada Aku… berarti Aku (Nur-Energi) menggerakkan
Sir, kemudian Sir menggerakkan Ruh dan Ruh menggerakkan Qolbu, Qolbu
menggerakkan budi, budi menggerakkan akal dan akal menggerakan tubuh.
Jihad
‘Dan
tentang orang-orang yang berjuang untuk bertemu dengan Kami, sesungguhnya Kami
akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang berbuat kebajikan.’ (S.29 Al-Ankabut:69)
[5]Kata bahasa Arab yaitu Jihad yang
dikemukakan dalam ayat Al-Quran ini diterjemahkan sebagai ‘berjuang.’ Kata
Jihad itu memang secara relatif pendek sekali tetapi implikasinya luar biasa
dalam masyarakat Islam secara keseluruhan dan dalam kehidupan pribadi seorang
Muslim. Jihad sebagaimana diperintahkan dalam Islam bukanlah tentang membunuh
atau dibunuh tetapi tentang bagaimana berjuang keras memperoleh keridhaan
Ilahi. Baik individual mau pun secara kolektif, Jihad merupakan suatu hal yang
esensial bagi kemajuan ruhani.
Kata Jihad itu sama sekali tidak
mengandung arti bahwa kita selalu dalam keadaan siap untuk berkelahi atau
melakukan perang. Hal itu sama sekali jauh dari kebenaran dan realitas. Arti
kata Islam sendiri berarti kedamaian dan semua usaha dan upaya kita sewajarnya
diarahkan kepada penciptaan kedamaian serta harmoni di antara sesama kita,
dalam komunitas dan dalam masyarakat secara keseluruhan.
Pada dasarnya Kata Jihad itu
mencakup keseluruhan aktivitas positif yang harus dilakukan seorang Muslim dan
kita semua harus berlaku sebagai Mujahid yang secara istiqomah memperbaiki
diri. Berjuang demi Allah membutuhkan tekad bulat dan keteguhan hati, dimana
hal ini tidak mungkin bisa dicapai tanpa keimanan, pemahaman dan keyakinan yang
hakiki kepada Wujud Maha Agung yang Maha Kuasa serta kepastian adanya kehidupan
setelah kematian. Jika seorang Muslim meyakini bahwa keimanannya itu benar
adanya, agama yang dianutnya itu juga benar maka ia tidak perlu takut kepada
orang-orang yang berusaha menariknya keluar dari keimanan demikian. Sebaliknya,
ia harus menerima mereka di rumahnya dengan senang hati dan melalui amal dan
kata yang saleh, insya Allah, bisa menarik mereka ke dalam agamanya.
Kebodohan
[6]Kebodohan
bukan sifat yang selalu melekat pada manusia dalam setiap kondisinya. Tetapi,
ada bentuk kebodohan yang melekat pada manusia sebagai akibat dari perbuatannya
sendiri, yaitu kelalaiannya dalam upaya menghilangkan kebodohan tersebut dengan
cara belajar. Oleh karena itu, hukum kebodohan dalam masalah agama berubah
sesuai dengan perubahan hukum kebodohan yang dapat dimaafkan karena sebab-sebab
syariat: pertama, adalah karena sebab kesulitan untuk melepaskan diri dari
kebodohan tersebut. Kedua, adalah tidak adanya kelalaian mukallaf dalam
tindakannya yang muncul dari kebodohan yang dimaafkan tersebut. Jadi, kebodohan
tidak dapat dijadikan alasan, kecuali jika ada kesulitan dan kendala untuk
menghindarinya, jika kesulitan dan kendala itu hilang, dan ia dapat mengetahui
hukum agama tetapi ia lali, maka kebodohannya tidak dapat dimaafkan.
Realita yang terjadi, masyarakat
tidak kunjung baik dari segi moral maupun kwalitas keilmuaannya. Bahkan dalam
satu hadits dari Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa di akhir zaman nanti,
manusia akan menjadi bodoh dan kebodohan tersebut akan merajalela baik menimpa
pada masyarakat awam maupun para penguasa.Hadits tersebut berbunyi, “Dari
Abdullah bin Amru bin ‘Ash ra. berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah SAW
bersabda: Sesungguhnya, Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari para
hamba, tetapi Allah mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga,
ketika tidak ada lagi ulama, manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai
pemimpin. Mereka pun ditanya, lantas berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat
dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bencana
dan fitnah terbesar bagi umat ini adalah kebodohan. Sedang nikmat terbesar
adalah ilmu akan al-Qur'an dan as-Sunnah sesuai pemahaman salaful ummah
(pendahulu ummat). Kebodohan akan ilmu syariat menyebabkan fitnah dan
perpecahan umat. Selain itu, kebodohan merupakan sumber bencana munculnya
ajaran sesat.
Kemiskinan
[7]Kemiskinan masih menjadi persoalan utama umat Islam. Tak hanya di
Tanah Air, masalah serupa juga dihadapi umat Islam di seluruh dunia. Penyebab
utama kemiskinan di kalangan umat Islam adalah rendahnya pemahaman terhadap
ajaran Islam yang menekankan kerja keras dan semangat perubahan.”Islam baru
dipahami sebatas ritual, tapi perbaikan kualitas, keadilan, dan profesionalisme
belum disentuh.”Karena itu, diperlukan upaya reformulasi pemahaman umat
terhadap ajaran dan nilai luhur Islam secara utuh, terutama melalui jalur
pendidikan keagamaan. Lembaga pendidikan Islam perlu mengembangkan keilmuan
secara menyeluruh, tidak hanya mencakup agama, tetapi juga penguatan sains,
teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam konteks ini,
menurut Imam, pemerintah dan ormas Islam dituntut berani membuka diri untuk
perubahan agar upaya pengentasan kemiskinan bisa diselesaikan secara kolektif.
[3] Kutipan bapak
Mario Teguh dalam acara Golden Ways
episode ‘jiwa yang tenang’
[5] Kutipan Bilal Atkinson adalah seorang Inggris pensiunan polisi dan
sekarang menjadi Amir Muballigh Wilayah Ahmadiyah dari bagian Timur Laut
Inggris.di terjemahkan oleh A.Q khalid
[7] Kutipan Rektor UIN
Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, Imam Suprayogo, kepada Republika,
Selasa (11/1).